Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Januari 2012

Pendidikan Karakter Untuk Perbaikan Mahasiswa Indonesia

Dalam kajian budaya, nilai merupakan inti dari setiap kebudayaan. Dalam konteks ini, khususnya nilai-nilai moral yang merupakan sarana pengatur dari kehidupan bersama, sangat menentukan di dalam setiap kebudayaan. Terlebih lagi adanya transformasi etika global yang semakin bebas. Padahal tidak ke semua yang bersifat mendunia itu sesuai dengan karakter pribadi budaya kita. Mahasiswa saat ini mengalami multikrisis yang dimensional, dan krisis yang dirasakan sangat parah adalah krisis nilai-nilai moral.
Berbagai fenomena dan wacana-wacana sosial akhir-akhir ini membahas gejala di kalangan mahasiswa khususnya. Permasalahan etika dan moral yang selalu diperbincangkan. Fenomena perilaku anarkis, perusakan, pertikaian, tawuran antarmahasiswa, serta hubungan antarpribadi yang semakin tidak mengindahkan nilai-nilai etika dan sopan santun menjadi suatu keprihatinan di bangsa kita.
Suatu keadaan yang memprihatinkan mahasiswa yang toleran, jujur, lemah-lembut, sopan-santun, tidak saling menyakiti serta selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etika dan moral mulai sulit ditemukan. Gejala dan trend yang tampak di kalangan mahasiswa menunjukan bahwa mereka mengabaikan budi pekerti dan tata krama pergaulan, yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang beradab. Mereka saat ini lebih terbiasa dengan tata krama yang berlawanan dengan budayanya sendiri. Seakan-akan nilai-nilai moral yang dimiliki dari kebudayaannya sendiri adalah suatu yang zaman dulu, ketinggalan zaman. Bahkan merupakan sesuatu yang harus ditinggalkan. Krisis etika dan moral yang terjadi saat ini telah memporak-porandakan tata nilai budaya serta masyarakat.
Salah satu strategi yang tepat untuk membentuk karakter mahasiswa yaitu melalui pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter ini mahasiswa dapat menjadi individu-individu berkarakter baik. Mahasiswa dapat dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuataan moral dalam hidupnya. Penerapan pendidikan karakter bukan hanya pada ranah kognitif, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif yang berupa sikap dan perilaku mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Maka, sudah seharusnya pendidikan karakter dibangkitkan kembali. Pada hakikatnya pendidikan karakter ingin membentuk individu yang bermoral yang dapat memahami kebebasan serta tanggung jawab dalam relasinya dengan orang lain maupun dengan dunia di dalam komunitas pendidikan.
Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etika, moral, dan budi pekerti dewasa ini. Telah mulai timbul kecenderungan masyarakat untuk menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, saat ini mulai dirintis adanya pendidikan karakter untuk mendorong tumbuhnya nilai-nilai moral dengan memberikan pembelajaran kepada mahasiswa agar mereka lebih menghargai nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter yang bertugas memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai penting bagi generasi penerus bangsa. Pendidikan karakter dengan kurikulum yang merupakan refleksi dari budaya masyarakat itu sendiri.  Kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah satu dimensi dari kebudayaan. Implikasi dasarnya; program kurikulum harus disusun dan mengandung materi sosial-budaya dalam masyarakat. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk membudayakan anak didik, tetapi sejalan dengan usaha mengawetkan kebudayaan itu sendiri. Pada pendidikan karakter sudah seharusnya ada upaya penghayatan untuk membuat nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan moral  dapat mendarah daging di setiap mahasiswa. Karena, pendidikan merupakan suatu instrument untuk mentrasmisikan kebudayaan pada masyarakat dan generasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifat mengawetkan kebudayaan, sehingga dapat membuat para generasi muda mahasiswa khususnya menjadi mahasiswa berbudaya.

Sabtu, 07 Januari 2012

Fenomena Hallyu bagi Indonesia


Abad 21 dikenal sebagai era globalisasi.  Globalisasi digambarkan sebagai semua proses yang merujuk kepada penyatuan seluruh warga dunia menjadi sebuah kelompok masyarakat global.  Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat menghindar dari globalisasi yang pengaruhnya kini telah menjalar kesegala aspek kehidupan, yang dapat dilakukan manusia adalah menghadapinya dan menjadikannya sebagai peluang. Globalisasi mewajibkan semua negara untuk siap menghadapi arus liberalisasi perdagangan barang dan jasa, tak terkecuali dengan Indonesia.  Tak hanya itu, persaingan ketat juga terjadi di bidang sumber daya manusia dan alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, serta tak kalah pentingnya adalah mampu.  Apabila Indonesia tidak mampu menghadapinya maka kita akan kalah dalam persaingan global tersebut.Globalisasi kini tidak hanya identik atau didominasi oleh westernisasi ‘Dunia Barat’. 
Fenomena terbaru yang terjadi saat ini adalah fenomena hallyu atau korean wave yang terjadi di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali dengan dunia Barat.  Hallyu bersumber pada negara Korea Selatan yang telah berhasil menyihir dunia dengan budayanya dan menghadirkan warna yang berbeda dari yang selama ini disuguhkan oleh bangsa Barat.  Hallyu telah menjadikan Korea Selatan sebagai Negara yang patut diperhitungkan kedudukannya di kancah Internasional dan tidak dapat dianggap sebelah mata.  Korea Selatan yang pada 1950-an termasuk negara termiskin di Asia, kini menjadi 10 negara terkuat ekonominya di dunia, nomor sembilan di dunia dalam pangsa pasar film, dan menjadi negara paling besar belanjanya untuk pertunjukan dan film.  Selain itu, Korea Selatan juga merupakan negara ke 3 yang telah berhasil menyebarkan budayanya ke seluruh penjuru dunia setelah Amerika dan Jepang.
Korean wave ini disebut juga Hallyu wave, mengacu pada penyebaran budaya Korea Selatan di seluruh dunia atau kecintaan terhadap eksport budaya korea selatan. Korean Wave atau Korean Fever merujuk pada peningkatan secara signifikan popularitas budaya Korea Selatan di seluruh dunia sejak abad 21, terutama di kalangan Generasi Net. Hal ini juga disebut sebagai Hallyu (Hangul: 한류; Hanja: ; RR: Hallyu), dari pengucapan Korea.  Hallyu atau Korean Wave pada hakikatnya merupakan fenomena demam Korea yang disebarkan melalui Korean Pop Culture ke seluruh penjuru dunia lewat media massa, dan yang terbesar lewat jaringan internet dan televisi.  Istilah ini diciptakan di China pada pertengahan 1999 oleh jurnalis Beijing terkejut oleh popularitas yang berkembang pesat hiburan dan budaya Korea di Cina. Dari sebuah budaya menjadi sebuah brand image, itulah Korean Wave. Sebuah kampanye yang sangat menarik melalui berbagai macam cara untuk memperkenalkan Negara Korea Selatan. Tidak bisa dipungkiri, cukup banyak orang yang tertarik menonton drama Korea, mendengar music K-pop (Korean pop), makanan khas korea, pakaian khas korea, belajar berbahasa korea (hangul) bahkan brand-brand dari korea mulai merajalela di tengah krisis global ini. Korea Selatan adalah salah satu dari sepuluh negara teratas dunia sebagai eksportir budaya dan Korean Wave dimulai dengan meng-ekspor drama TV Korea seperti Autumn Fairy Tale, Winter Sonata, Dae Jang Geum (Jewel In The Palace), dan Princess Hours di seluruh Asia Timur dan Asia Tenggara. Keberhasilan pertumbuhan drama korea segera diimbangi dengan film korea, musik pop, makanan dan bahasa. Meskipun populer di seluruh Asia, pengaruh Korean Wave paling terlihat di Cina, Jepang dan Asia Tenggara, lalu menyebar ke India, Timur Tengah, Asia Tengah, Iran, Israel, Turki dan Rusia. Korean Wave berkembang pesat di luar Asia melalui internet dan juga menyebar ke Utara, Tengah dan Amerika Selatan, khususnya di Chile, Meksiko dan Argentina, dan semakin menjadi populer di Amerika Serikat. Selain itu juga menyebar di Eropa Timur dan Skandinavia, antara lain oleh Hungaria dan Norwegia. Hal ini juga mengumpulkan banyak minat positif di Afrika Utara, menarik penonton yang cukup besar di Mesir.
Saat ini, Korean Wave mulai ‘menghantam’ Kerajaan Inggris dan Australia. Di Indonesia sendiri, berkembangnya Korean Pop Culture diawali dengan kemunculan drama seri Korea terlaris kala itu yaitu Endless Love pada tahun 2002 di salah satu stasiun televisi swasta. Cerita yang dikemas secara apik, tidak memiliki episode yang panjang, dengan aktor dan aktris yang berbakat dan sangat menarik penampilannya, membuat drama seri ini menjadi awal pembuka bagi masuknya Korean Pop Culture lainnnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ditayangkannya drama seri Korea lain yang berjudul Winter Sonata pada tahun yang sama pula.Selain itu, di Indonesia kita bisa melihat maraknya pemutaran film dan sinetron Korea di televisi, Hallyu bisa juga ditemui di toko-toko kaset dan vcd. Dalam hal ini, film-film Korea sudah mendapat lisensi penjualan melalui distributor resminya. Ini menandakan bahwa film Korea pun sudah mulai sejajar dengan film-film original dari Hollywood yang dipasarkan di Indonesia. Ini merupakan suatu capaian sukses yang diraih oleh industri perfilman Korea. Bila dilihat dari sisi lain, film Korea memiliki pangsa pasar juga di Indonesia. Dengan kata lain, disadari atau tidak, sebagian masyarakat Indonesia sudah terpengaruh dengan Hallyu.Setelah kesuksesan drama korea yang telah berhasil membuat fenomena Hallyu, maka Pemerintah Korea Selatan berencana untuk mengulang kesuksesan yang sama pada Korean Movie dan Korean Music. 
Korean Music atau yang lebih dikenal dengan Korea Pop (K-Pop) telah memperkenalkan boyband dan girlband yang mampu meraih popularitas hingga ke penjuru dunia, yang tentunya dengan kualitas yang tidak dapat diremehkan.  Di Indonesia sendiri, sudah banyak berjamur, fanbase-fanbase K-Pop Idol baik di dunia maya maupun di dunia nyata.  Semua ini terjadi, tentu saja berkat kerjasama semua pihak yang terkait, serta pemerintah yang peduli dan mampu melihat serta memaksimalkan peluang yang ada. Pengaruh Korean Pop culture dalam kehidupan masyarakat Indonesia disadari atau tidak yang meliputi segala aspek dari musik dan drama hingga fashion style, hair style, bahkan Korean way of life. Fenomena tersebut terlihat dari banyaknya fanbase yang ada, baik di dunia maya maupun dunia nyata dan menjamurnya komunitas virtual pecinta Korea di Indonesia.  Hal ini merupakan dampak dari  pola konsumsi media internet pada sebagian besar remaja Indonesia, sehingga menjadi faktor penentu bagaimana Korean Wave bisa menyebar dan akhirnya muncul sejumlah organisasi komunitas virtual yang anggotanya berasal dari berbagai kota di Indonesia. Tak hanya itu, fenomena hallyu juga telah menyebabkan pecintanya memburu segala hal yang berkaitan erat dengan Korea, hal ini tampak jelas dari semakin meningkatnya masyarakat Indonesia yang mempelajari bahasa Korea dan budaya Korea.  Semakin banyaknya restaurant Korea di Indonesia menunjukkan bahwa semakin meningkatnya minat para pencinta kuliner terhadap masakan Korea.  Segala hal yang berhubungan dengan artis-artis Korea juga diburu oleh para pecintanya, hal ini terlihat dari banyaknya kegiatan gathering sesama pecinta artis Korea, dan maraknya lomba cover dance dan idol star.
Berdasarkan fenomena tersebut, dapat diketahui bahwa Korean Wave sedang berjalan pada tracknya di Indonesia. Memiliki kelasnya tersendiri dan punya para penggemarnya masing-masing. Tetapi yang pasti, Korean Wave nyata-nyata sudah mempengaruhi banyak aspek kehidupan penggemarnya. Tidak terkecuali menginspirasi para artis-artis tanah air.Fakta tersebut telah membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa Korean Wave diyakini atau tidak telah menginspirasi banyak artis di Indonesia. Kemunculan SM*SH sebagai boy band dengan gaya-gaya yang menyerupai Super Junior, menjadi pembuka bagi bermunculannya boy band dan girl band lain di Indonesia.   Hal ini menandakan bahwa dunia entertainmant khususnya musik, telah memberikan tempat khusus bagi penikmat boyband dan girlband.  Namun, hal ini tidak dibarengi dengan kreativitas dalam berkarya dari para pihak yang terkait, sehingga tanpa disadari atau tidak, artis-artis Indonesia telah meniru konsep boyband dan girlband korea secara utuh, nyaris tanpa perbedaan. Selain itu, kemampuan yang tidak dimiliki oleh artis Indonesia adalah kemampuan dalam memanage para fans, serta menunjukkan dan membalas kecintaan fans.  Artis-artis korea kerap menunjukkan dan membalas kecintaan fans dengan membuat lirik lagu yang khusus ditujukan pada para fansnya, sehingga hal ini akan berpengaruh pada loyalitas dari fans tersebut.
Tak hanya itu, Fenomena Hallyu juga memberikan dampak negatif lainnya, antara lain mengakibatkan lunturnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap budayanya sendiri, menurunnya semangat belajar dan prestasi belajar karena tersitanya waktu untuk menonton drama Korea atau menjelajahi dunia maya untuk melakukan searching mengenai Korea.  Yang tak kalah penting adalah gaya hidup masyarakat Indonesia yang telah terpengaruh oleh gaya hidup masyarakat Korea.Tak semua fenomena Hallyu memberikan dampak negatif bagi Indonesia, dampak positif dari fenomena ini antara lain; memperkaya pengetahuan akan kebudayaan negara lain, Korea dapat dijadikan teladan yang baik dalam hal menghadapi arus globalisasi yang semakin kuat dan tak dapat dihindari, Menginspirasi masyarakat Indonesia untuk terus bekerja keras dan disiplin serta memiliki etos kerja yang tinggi.
Ada pula pembelajaran yang bisa diperoleh dari fenomena Hallyu Film Korea yang telah menjadi andalan ekspor Hallyu harus bisa dijadikan alat belajar bagi masyarakat Indonesia terutama mereka yang berkecimpung di dunia perfilman. Banyak yang bisa dipelajari dari keberhasilan Korea mengekspor budayanya. Salah satunya adalah kemampuan sineas negara  ini dalam menangkap pasar dari industri interaktif. Bukan hanya tayangan di televisi, tetapi mereka akhirnya juga telah berhasil mengemas produk mereka dalam berbagai bentuk dan produk untuk saling mendukung pemasaran industri film mereka. Untuk itulah Indonesia yang saat ini mau tidak mau telah menjadi “pasar” atau konsumen budaya Korea harus bisa mengambil segi-segi positif yang bisa didapatkan terutama dalam hal bagaimana pemerintah Korea mendukung menyebarnya Hallyu ke dunia Internasional. Dukungan seperti ini perlu menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dan pemerintah Indonesia untuk ikut memikirkan produk budaya lokal dan menghargainya. Hanya dengan kesadaran akan berharganya produk dalam negerilah suatu negara bisa dengan bangga memperkenalkan budayanya ke dunia internasional. (http;//kompas.com.amirsodikin/drama-korea-yang-membuaiAsia.html)
Film maupun sinetron di Indonesia yang sebagian besar merupakan hasil plagiat, dapat digantikan dengan drama-drama yang dikemas secara apik dengan berlatar belakang kehidupan masyarakat di jaman kerajaan pada masa lampau dengan bertemakan kisah-kisah percintaan hingga kepahlawanan.  Dari situ kita dapat mengadaptasi cara Korea Selatan dalam memperkenalkan kebudayaan dan kehidupan masyarakatnya dengan drama Korea yang dikemas secara apik dan memiliki nilai jual serta kualitas yang tinggi.  Aliran musik yang dibawakan oleh artis Korea memang terdengar ringan dan berbeda dari kebanyakan, sehingga mudah diterima oleh berbagai kalangan meskipun bahasa yang digunakan sebagian besar adalah bahasa Korea, yang tidak semua orang dapat memahaminya.  Hal ini lah yang dapat ditiru oleh Indonesia, yaitu memiliki khas tersendiri dengan karya yang orisinil serta dapat memiliki tempat khusus di hati para penikmat musik.  Dari semua paparan di atas, hal ini tentu saja dapat dijadikan pemicu semangat masyarakat Indonesia untuk memiliki kemampuan menggabungkan cultural dengan industri, dan menggunakan strategi soft diplomation sehingga Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di kancah Internasional.
Gelombang Hallyu yang sangat besar di Indonesia haruslah menjadi pemacu semangat yang nyata untuk melakukan perubahan. Korean pop culture pada dasarnya sangat menarik untuk dipelajari dan menginspirasi karena ditengah kemodernannnya, ada semangat perubahan terus menerus didalamnya, tetapi dengan tidak meninggalkan budaya tradisional didalamnya. Hal tersebut menjadi menarik untuk dipelajari untuk para remaja di Indonesia, bahwa ketika kita sedang terpengaruh dengan kebudayaan lain yang masuk, kita punya filter yaitu kebudayaan sendiri, supaya antara tradisi dan modenitas dapat berjalan serasi, selaras, dan seimbang. Pada akhirnya, kejayaan Korean Pop Culture di Indonesia haruslah dapat menginspirasi kita semua untuk memajukan dan berjaya dengan Indonesian Pop Culture. (http;//bidariIndrahastuti.blogspot.com.UASPTK-Fenomena Pembentukan Komunitas Virtual Pecinta Korea di Indonesia.html)
Anggota komunitas yang lebih tertarik menyebarkan budaya Korea dibanding melestarikan budaya Indonesia, seharusnya membuka mata bangsa ini lebih luas akan pentingnya membuat sebuah branding yang kuat bagi Indonesia. Indonesia memiliki nilai jual yang tidak kalah menarik dengan Korea, namun tidak memiliki cukup strategi komunikasi untuk menyebarkan pengaruhnya di dunia.Oleh karena itu, bangsa Indonesia sebaiknya belajar dari Korea Selatan bagaimana menyebarkan pengaruh dan kebudayaannya secara tepat dan efisien. Korea Selatan dengan cerdas memberikan positioning dirinya sebagai produsen budaya dan hiburan yang notabene akan mudah disukai oleh masyarakat. Lebih jauhnya, perubahan perilaku konsumsi masyarakat dunia, dengan cepat membuat promosi kebudayaan yang dilakukan Korea melalui pemanfaatan teknologi YouTube, misalnya, menjadi pembicaraan melalui word of mouth dan viral communication yang efektif disebarluaskan secara jamak.
Keberadaan komunitas virtual yang memiliki loyalitas tinggi terhadap budaya Korea, juga banyak membantu tersebarnya Korean Wave ke mancanegara, terutama di Indonesia. Untuk ke depannya, tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk membuat sebuah branding pariwisata dan budaya yang lebih efektif dalam kemasan menarik, sehingga mudah disukai oleh masyarakat dari negara lain. Lebih baik lagi jika Indonesia memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi masa kini untuk menyebarkan informasi mengenai serba-serbi Indonesia kepada dunia agar masyarakat dunia juga tahu bahwa Indonesia pun punya budaya yang luar biasa.

Kilas Balik Bencana Merapi

                Gunung Merapi , bencana dahsyat telah menimpa warga sekitar. Dalam sekejap keindahan alam di kawasan Sleman utara hancur berantakan, segala yang terjadi bukti kuasa Tuhan semesta alam. Bencana yang saat ini sering terjadi merupakan kuasa Tuhan, dan Tuhan telah menghendaki terjadinya. Bukan sesuatu yang mustahil jika negeri tercinta ini dilanda bencana. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan daerah yang dilalui jalur pegunungan api dan terdapat pula pertemuan tiga lempeng besar.
            Gunung Merapi memiliki tipe letusan tersendiri. Gunung tersebut tidak dapat digolongkan dalam kategori tipe letusan gunung api yang ada dalam kajian ilmu Geografi. Tipe merapi: lavanya kental, sumber magma sangat dangkal tekanan gas yang keluar dari sumber kawah yang retak atau dari sisi sumber kawah itu. Awan panas meluncur di lereng gunung dengan disertai pecahan sumbat kawah sebagai “bom”nya.
            Terjadinya bencana  gunung merapi merupakan gejala vulkanisme. Semua aktivitas gejala alam yang terjadi akibat adanya aktivitas magma. Karena adanya tekanan yang amat besar, walaupun suhunya cukup tinggi, batuan di dalam bumi tetap berwujud padat. Apabila terjadi pengurangan tekanan, akibat  celah-celah, tekanan pun akan menurun sehingga batuan menjadi cair dan terjadilah magma.
            Adanya bencana Gunung Merapi, yang mengakibatkan bentang lahan di permukaan bumi sangat bervariasi dan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan bentuk permukaan bumi ini disebabkan oleh adanya tenaga-tenaga geologis yang bekerja yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen (tenaga dari luar bumi). Bukan dari tenaga gaib (yang selama ini menjadi kepercayaan warga sekitar Gunung Merapi)
            Gunung Merapi marah, para penunggu tidak diberi perhatian dari Juru Kunci (Mbah Maridjan) yang sibuk syuting suatu produk minuman. Mayoritas masyarakat sekitar Gunung Merapi mempercayai hal-hal yang berbau mistis. Apa yang terjadi selalu dihubungkan dengan hal mistis, padahal sebenarnya apa yang terjadi dengan alam dapat dijelaskan secara rasional. Disinilah peran ilmu geografi untuk menjelaskan kepada masyarakat sekitar Gunung Merapi terkait peristiwa meletusnya gunung tersebut.

Kamis, 22 Desember 2011

Peran Obyek Wisata Bagi Pengembangan Kepariwisataan di DIY

Ragam budaya yang disuguhkan di Yogyakarta menjadikan kota ini dipertimbangkan keberadaannya untuk menjadi tujuan wisata. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Kota Yogyakarta dan selalu terjaga kekhasannya membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara sering berkunjung ke Kota Budaya ini. Budaya merupakan salah satu aset yang perlu dijaga kelestariannya, dengan adanya pelestarian maka akan terjaga keunikannya. Budaya adalah salah satu penarik di bidang pariwisata, terbukti Pulau Bali menjadi tujuan wisata nomor satu di Indonesia dikarenakan masyarakatnya masih menjaga keasrian alam dan budaya. Potensi yang dimiliki Indonesia baik keindahan alam serta keberagaman budaya sangat menjual bagi dunia kepariwisataan. Adanya moment sejarah yang terjadi di beberapa daerah, memberi peninggalan bersejarah dari perjuangan para pendahulu.
          Dunia pariwisata di Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Kemampuan pemerintah dalam mengelola daerah yang memiliki potensi sebagai tempat tujuan wisata cukup bagus. Saat ini terbukti dari waktu ke waktu semakin bertambah tempat wisata yang menjadi pilihan. Beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia memiliki banyak obyek wisata yang tersebar di berbagai daerah. Letak geografis Indonesia yang berada diantara dua benua dan dua samudera. Indonesia memiliki letak yang sangat strategis bagi wisatawan asing, sehingga aset pariwisata yang dimiliki dapat mudah menarik pengunjung. Lantas iklim Indonesia juga berdampak positif  bagi keindahan alam, iklim tropis sangat mendukung untuk tumbuh kembangnya flora di tanah Indonesia. Adanya alam itu memberikan habitat bagi fauna untuk bertahan hidup. Ketersediaan bahan pangan bagi fauna itu sangat mendukung untuk regenerasi fauna di Indonesia khususnya fauna endemik. Seperti Komodo di Pulau Komodo, komodo merupakan salah satu fauna khas yang dimiliki Indonesia.
          Faktor selanjutnya adalah latar belakang historis, Indonesia memiliki segudang cerita yang berkenaan tentang perjuangan kemerdekaan, tentang beberapa legenda dan peristiwa sejarah misal: penyebaran agama islam; hindu-budha. Beberapa peristiwa sejarah yang perlu dikenalkan bagi generasi muda agar kedepannya sebagai penerus dapat mengenang serta mengambil manfaat dari adanya pengalaman para pendahulu. Beberapa tempat bersejarah sebagai saksi terjadinya suatu peristiwa sampai saat ini mendapat perhatian baik dari pemerintah. Pemerintah lantas tidak mengkramatkan tempat bersejarah, justru membuka untuk umum agar tempat-tempat bersejarah dikunjungi. Tujuan hal ini agar generasi muda dan masyarakat dapat mengenang jasa para pendahulu serta meneruskan perjuangan yang telah terraih.
          Kebudayaan, jika membicarakan budaya di negara kita maka tidak akan habisnya. Kekayaan kesenian, upacara adat dan budaya lokal yang ada di setiap daerah memberikan daya tarik tersendiri di bidang pariwisata Indonesia. Kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia sehingga keunikan dari budaya yang dimiliki setiap daerah pasti ada. Keunikan inilah yang dapat menarik wisatawan, perbedaan antara setiap kebudayaan yang dimiliki suku, ras, agama, dan golongan di Indonesia menjadikan pariwisata Indonesia semakin bervariasi. Kebudayaan menjadi salah satu bagian dari promosi pariwisata karena keunikannya.
Ujung Kulon hingga Irian Jaya terdapat banyak tempat pariwisata yang dapat menarik perhatian bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat mancanegara. Setiap daerah memiliki potensi masing-masing diberbagai bidang, begitu pula dibidang pariwisata. Daerah dapat mengembangkan diri melalui obyek pariwisata yang ada. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi Indonesia yang mempunyai ragam budaya, selain dikenal sebagai kota pelajar, kota pendidikan, Yogyakarta sangat dikenal sebagai kota budaya.
Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata memberikan beberapa pilihan bagi peminatnya. Obyek wisata yang ada di Yogyakarta pun beraneka macam dari indahnya alam, kunonya bangunan bersejarah, uniknya upacara adat, hingga ramainya pusat perbelanjaan. Alam di Yogyakarta tak kalah pula dengan pantai pasir putih yang ada di Pulau Bali, pantai yang berada di Kabupaten Gunung Kidul dari Krakal, Kukup, Sundak, dan Drini memberikan keindahan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Deretan pantai yang ada di Kabupaten Gunung Kidul tak sepi dari pengunjung pula. Tidak seramai di pantai pasir putih di Pulau Bali, dikarenakan akses jalan menuju ke obyek wisata ini memakan waktu yang cukup lama. Pantai Parangtritis yang terletak di Kabupaten Bantul juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menikmati kerasnya ombak lautan. Keunikan yang ada di Pantai Parangtritis yaitu adanya Upacara Labuhan. Upacara yang diadakan pihak Kraton Yogyakarta di Pantai Parangtritis yang diikuti masyarakat sekitar. Kegiatan ini tak jarang mengundang rasa penasaran bagi para wisatawan. Keunikan budaya ini yang seringkali menarik warganegara asing berkunjung ke Negara Indonesia. Apabila dipikir secara logika, keindahan lautan, alam di negara lain lebih indah dibandingkan di Indonesia. Adanya keunikan budaya yang hanya ada di Indonesia membuat warganegara asing meginjakkan kaki ke negara kita untuk mengetahui bagaimana kebudayaan. Yogyakarta memiliki Kraton, yang dulunya sebagai pusat pemeritahan Yogyakarta. Dulunya sebagai tempat yang sakral sehingga Kraton Yogyakarta tak banyak yang mengetahui apa saja yang terdapat di dalam. Saat ini sudah mengalami perubahan, Kraton Yogyakarta dibuka untuk umum. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan bermacam-macam kesenian dari tari-tarian, kendaraan zaman dulu dan peninggalan fisik. Dalam rangka mengenalkan kepada masyarakat kesenian Jawa kepada masyarakat luas melalui Kraton Yogyakarta, melalui pagelaran wayang dan tari-tarian.
Beralih ke obyek wisata Monumen Jogja Kembali, Monumen yang berada di titik imaginer letaknya pun strategis di Jalan Lingkar Utara, Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta sehingga memudahkan akses para wisatawan. Monumen ini memiliki banyak daya tarik, selain tempatnya yang strategis, monumen juga berbentuk unik, harga tiket terjangkau dan memiliki nilai sejarah. Berkenaan dengan nilai sejarah ini, Monumen dapat menumbuhkan kesadaran bagi generasi muda akan keberadaan para pahlawan bangsa. Tidak hanya itu saja, pembentukan karakter bangsa juga menjadi harapan dari keberadaan monumen ini. Keberadaan Monumen Jogja Kembali berdampak pada aspek sosial-ekonomi dan sosial-budaya. Secara budaya sebagai salah satu jalan melestarikan budaya dan mengenalkan sejarah bagi generasi muda. Situs Ratu Boko dan Candi Prambanan memberikan kelengkapan bagi pilihan wisata di Provinsi DIY. Bangunan arsitektur yang memukau, bahkan Candi Prambanan merupakan salah satu bangunan candi tercantik di Indonesia. Adanya legenda dari tempat pariwisata itu memberikan fungsi tersendiri. Legenda yang terdapat bukti fisik akan lebih mudah mengundang ketertarikan bagi pengunjung.
Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya. Kegiatan yang berbasis pariwisata merupakan salah satu upaya yang dilakukan pihak pemerintah dalam rangka mempromosikan obyek wisata yang belum ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Sesungguhnya berbagi obyek wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi yang luar biasa. Meskipun setiap obyek wisata tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Hal itu sudah sangat wajar, disinilah peranan pemerintah yang memiliki kewenangan untuk memperbaiki struktur pengurus obyek wisata yang bermasalah. Tujuannya agar obyek wisata dapat menunjukan eksistensinya sesuai dengan keunggulan yang ada.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beberapa faktor penarik sebagai daerah tujuan wisata. Pertama, DIY memiliki letak strategis untuk dikunjungi. Bagi yang mempunyai keinginan berkunjung ke DIY dapat menggunakan transportasi berbagai macam. Melalui jalur darat atau udara dapat ditempuh. Ketika wisatawan telah sampai di Yogyakarta dapat menggunakan transportasi beraneka macam dari becak, andong, bus dan transportasi Trans Jogja. Trans Jogja yang tersedia memberikan kenyamanan bagi para wisatawan. Bagaimana tidak dengan busway ini, dapat berkeliling Yogyakarta dengan harga terjangkau. Pemerintah meluncurkan alat transportasi yang satu ini tidak lupa memperhatikan titik-titik obyek wisata. Untuk sampai ke Monumen Jogja Kembali bisa pula menggunakan Trans Jogja, kemudian ke arah selatan dapat berhenti sejenak menikmati gagahnya Tugu Jogja. Tidak hanya itu saja untuk samapi di pusat perbelanjaan yang begitu besar dan terkenal Malioboro pun bisa menggunakan Trans Jogja. Akses yang sangat mudah untuk menjangkau obyek wisata memudahkan obyek wisata yang di Yogyakarta berkembang. Pemerintah harus lebih meningkatkan alat transportasi agar kedepannya obyek pariwisata di Yogyakarta dapat meningkatkan jumlah pengunjung.
Sebagai daerah tujuan wisata Daerah Istimewa Yogyakarta tidak pernah berhenti untuk terus mempromosikan obyek wisata yang berada di Kota budaya ini. Banyak hal yang harus dilakukan oleh pemerintah terkait pembangunan tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan obyek pariwisata. Perhatian yang bagus kepada obyek pariwisata akan memberikan dampak yang positif dalam banyak hal. Pariwisata dari waktu ke waktu dapat menyita perhatian yang luar biasa dari berbagai kalangan. Manusia pada umumnya tidak akan dapat dipisahkan dengan yang namanya dunia wisata, manusia membutuhkan hiburan untuk menyegarkan pikiran. Prospek dalam pariwisata cukup menjanjikan bagi pemasukan negara maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu sub sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakkan ekonomi rakyat, karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan atau community-based tourism development .
Sejak awal telah disadari bahwa kegiatan pariwisata harus dimanfaatkan dengan baik dalam proses pembangunan. Pembangunan kepariwisataan sebagai bagian dari pembangunan nasional mempunyai tujuan antara lain memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja. Sejalan dengan tahap-tahap pembangunan nasional, pelaksanaan pembangunan kepariwisataan nasional dilaksanakan secara menyeluruh, berimbang, bertahap, dan berkesinambungan. Tampak jelas bahwa pembangunan di bidang kepariwisataan mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar obyek wisata yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Pariwisata merupakan industri gaya baru yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup, dan dalam mengaktifkan sektor lain di dalam negara penerima wisatawan. Di samping itu pariwisata sebagai suatu sektor yang kompleks, mampu menghidupkan sektor-sektor lain meliputi industri-industri seperti industri kerajinan tangan, industri cinderamata, penginapan, dan transportasi. (Salah Wahab, 1976: 5)
Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata antara lain didorong oleh keinginan untuk mengenal, mengetahui atau mempelajari daerah dan kebudayaan masyarakat lokal. Selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan pasti berinteraksi dengan masyarakat lokal, bukan saja dengan mereka yang secara langsung melayani kebutuhan wisatawan melainkan juga dengan masyarakat luas. (I Gde Pitana dan Putu G. Gyatri, 2005 : 81)
Dunia pariwisata dengan beberapa aspek kehidupan yang terlibat di dalamnya akan mengakibatkan terjadinya pertemuan dua budaya atau lebih yang berbeda-beda yakni budaya antara para wisatawan dengan budaya masyarakat sekitar obyek wisata. Dua kebudayaan yang berbeda akan saling bersinggungan sehingga memberikan pengaruh yang dapat menimbulkan dampak bagi segala aspek kehidupan masyarakat sekitar obyek wisata.
Pada hakikatnya terdapat empat bidang pokok yang dipengaruhi oleh usaha pengembangan pariwisata, yaitu ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup. Dampak positif yang bermanfaat dalam bidang ekonomi yaitu bahwa kegiatan pariwisata mendatangkan pendapatan devisa negara dan terciptanya kesempatan kerja, serta adanya kemungkinan bagi masyarakat di daerah tujuan wisata untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup mereka. Dampak positif yang lain adalah perkembangan atau kemajuan kebudayaan, terutama pada unsur budaya teknologi dan sistem pengetahuan yang maju. (Nyoman S. Pendit, 1990: 79 - 80)
Potensi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sektor pariwisata khususnya menyangkut obyek wisata turut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) setiap tahunnya. Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai daerah-daerah wisata yang potensial dan wisata budaya yang telah dikenal baik secara nasional maupun internasional. Pembangunan kepariwisataan harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan sektor-sektor pembangunan lainnya melalui usaha-usaha kepariwisataan dari yang kecil, menengah hingga besar. Peranan pemerintah harus lebih diarahkan untuk mendorong peranan pihak swasta dalam usaha menciptakan produk wisata. Berkembangnya peranan swasta akan memajukan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak cukup apabila hanya yang berjalan pihak pemerintah, hal ini dikarenakan minimnya dana untuk mengembangkan potensi yang ada.
Kementrian Budaya dan Pariwisata sudah memiliki empat jurus untuk membangun pariwisata Yogyakarta yaitu promosi lebih keras, anggaran digabung dengan swasta (untuk promosi), menjaga stabilitas keamanan tetap kondusif dan mengajak wartawan ke sejumlah tempat wisata. Hal ini di ungkapkan Menteri Menbudpar Jero Wacik yang saat ini pariwisata Indonesia mengusung tema Wonderful Indonesia. Usaha pemerintah untuk terus mengenalkan daerah tujuan wisata unggulan baru Indonesia misalnya: Sejumlah daerah unggulan wisata baru itu antara lain Sumtera Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Belitung, Batam-Bintan, hampir semua daerah wisata di Pulau Jawa, Bali, Lombok, NTB, Timor dengan Komodonya dan Papua. Untuk Papua, katanya, di sana ada Sentani, Lembah Baliem dan Raja Ampat. Selain itu, juga Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara (Wakatobi). (Dalam: http://www.antaranews.com/berita/1294404946/menbudpar-4-jurus-untuk-wonderful-indonesia. Diunduh pada: 21 Desember 2011; 19:00)





DAFTAR PUSTAKA

I Gde Pitana dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.
Nyoman S. Pendit. 1990. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: PT. Pradana Paramita.
Salah Wahab. 1976. Manajemen Kepariwisataan Terj. Frans Gromang. Jakarta: PT Pradnya Paramita.


           

Minggu, 18 Desember 2011

Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memilki keistimewaan seperti halnya Daerah Istimewa Aceh di pulau Sumatera. Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur DIY dan ditetapkan bukan dipilih. Itu sebagai keistimewaan Yogyakarta yang akan selalu menjadi keinginan rakyat Yogyakarta dan akan selalu diperjuangkan sampai kapanpun. Sebuah pertimbangan penting dalam pembahasan keistimewaan DIY adalah konteks sejarah yang melatarbelakanginya.
Kesultanan Yogyakarta ada lebih dahulu dibandingkan NKRI. Pada masa kolonial, Sultan diakui otoritasnya sebagai penguasa wilayah Yogyakarta. Ini berbeda dengan kekuasaan monarki lainnya di Nusantara yang setelah ditaklukkan langsung dihapuskan Belanda. Ikatan kuat antara Sultan sebagai pengayom dan rakyat sebagai kawulanya. Berdasarkan pertimbangan penasihat pemerintahan kolonial saat itu, penghapusan kesultanan justru akan berpotensi besar menimbulkan gejolak di masyarakat. Hal serupa juga berlanjut pada masa penjajahan Jepang ketika Kesultanan Yogyakarta berstatus daerah istimewa yang memiliki pemerintahan otonom. Seharusnya Pemerintah Pusat saat ini dapat berkaca pada Pemerintaan Kolonial pada tempo dulu.
Selo Soemardjan dalam bukunya, Perubahan Sosial di Yogyakarta, pun menjelaskan, ketika Jepang datang menggantikan Belanda untuk menjajah negara ini tahun 1942, Sultan Hamengku Buwono (HB) IX meminta agar diperbolehkan memerintah rakyat Yogyakarta secara langsung, tidak melalui pepatih dalem. Jepang meluluskan permintaan itu, bahkan melantik untuk kedua kalinya Raja Keraton Yogyakarta HB IX agar kokoh kedudukannya. Jepang memberi istilah Koti atau Daerah Istimewa Yogyakarta untuk diperintah HB IX. Ikatan kuat antara raja dan rakyat itu, hingga berlangsung hingga zaman modern. Salah satu yang menonjol adalah pada masa kepemimpinan HB IX, yang dinilai sebagai pemimpin yang benar-benar menunjukkan karakter kerakyatannya.
      Mengenai konteks keistimewaan pada masa kemerdekaan,  melihat hal itu jelas tercantum dalam Amanat 05 September 1945 yang dikeluarkan HB IX dan Paku Alam (PA) VIII. Amanat itu menyatakan penggabungan diri Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI dengan status daerah istimewa yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur wilayahnya. Amanat itu dijawab Presiden Soekarno dengan menyerahkan Piagam Kedudukan kepada HB IX dan PA VIII sebagai tanda persetujuannya pada 6 September 1945 ( tertanggal 19 Agustus 1945 ). Hal itu juga tercantum dalam Pasal 18 UUD 1945, sebelum perubahan yang menyatakan, negara menghormati daerah yang memiliki status istimewa. Tidak bisa dipungkiri, ruh Keistimewaan DIY adalah kepemimpinan Sultan sebagai kepala daerah. Tanpa itu, keistimewaan tidak ada maknanya.
Mengenai Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta sampai saat ini belum juga selesai. Bahkan ketegangan antara rakyat Yogyakarta dengan pemerintah pusat semakin memanas. Pemerintah pusat seharusnya dalam melakukan pembahasan RUUK DIY tetap mempertimbangkan aspirasi rakyat Yogyakarta khususnya. Seperti yang telah kita ketahui Demokrasi menurut Abraham Lincoln “ dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ” . Itulah makna sederhana tentang demokrasi. Kenyataan yang membuat rakyat Yogyakarta bergejolak adalah Pemerintah Pusat mengabaikan aspirasi rakyat Yogyakarta dalam pembuatan RUUK DIY. Berikut beberapa isi Draf RUUK DIY :
1.      Gubernur dan wakil gubernur dipilih melalui pemilihan DPRD.
2.      Sri Sultan Hamengku Buwono dan Sri Pakualam menjabat gubernur utama dan wakil gubernur utama.
3.      Pemerintah daerah yang terpilih harus meminta persetujuan sultan dalam pembuatan anggaran dan kebijakan.
4.      Jika Sultan dan Pakualam mencalonkan diri, pencalonan, itu bersifat perseorangan, tanpa melalui partai politik.
Sudah sepantasnya pemerintah pusat mendengarkan aspirasi rakyat Yogyakarta. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-X meminta pemerintah pusat memperhatikan aspirasi rakyat Yogyakarta menyusul aksi besar-besaran ‘sidang Rakyat’ dan keputusan DPRD. “Pemerintah harus menghargai aspirasi rakyat” katanya dikutip dari Metro TV.
Pemerintah pusat memberikan penegasan bahwa pembahasan RUUK DIY, tidak berkaitan dengan sikap DPRD DIY. Sikap pemerintah pusat sungguh sangat mengherankan, Mereka tidak menyadari untuk siapa RUUK DIY. Keseluruhan itu pasti untuk rakyat Yogyakarta dan yang akan menjalankan adalah DPRD DIY, tetapi mengapa mereka membuat RUUK DIY mengesampingkan apa yang menjadi kehendak rakyat Yogyakarta. Keinginan yang diharapkan rakyat Yogyakarta adalah mempertahankan sebuah sistem pemerintahan yang selama ini ada. Sistem yang selama ini terbukti tidak bertentangan dengan demokrasi dan konstitusi.
Para penguasa negeri, membuat kecewa rakyat Yogyakarta sekaligus membuat tidak ada kepercayaan lagi kepada mereka. Penguasa negeri seharusnya dapat berkaca pada pengalaman yang sudah sering terjadi di kancah politik negeri ini. Pemilihan Gubernur, walikota, bupati yang didamba-dambakan sebagai wujud dari adanya demokrasi. Tetapi,  apa yang terjadi pada kenyataanya mereka berkorupsi ria. Lihatlah, Sri Sultan Hamengku Buwono yang bergabung dalam roda pemerintah tidak pernah tersangkut pada kasus korupsi padahal melalui penetapan bukan pemilihan.
Tujuan yang hendak dicapai dengan demokrasi itu adalah kehidupan yang bahagia, sejahtera, rukun dan damai. Selama ini tanpa pemilihan kehidupan itu ada dimasyarakat Yogyakarta. Penghargaan atas adanya keistimewaan adalah merupakan bagian dari keindahan dan kekayaan dari sistem demokrasi dan hukum di Indonesia. Sebuah kekeliruan besar jika menuduh Yogyakarta menganut sistem Monarki yang bertentangan dengan sistem demokrasi Bangsa ini.
Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur DIY dan ditetapkan bukan dipilih. Itu sebagai keistimewaan Yogyakarta yang akan selalu menjadi keinginan rakyat Yogyakarta dan akan selalu diperjuangkan sampai kapanpun.  Pembuktian yang kuat sudah terlihat jelas unjuk rasa besar-besar yang dilakukan rakyat Yogyakarta sudah menjadi kekuatan adanya dukungan mayoritas rakyat Yogyakarta yang menginginkan penetapan bukan pemilihan.
Sesungguhnya Pemerintah pusat bisa dengan mudah mengesahkan RUUK DIY jika mendengarkan aspirasi rakyat Yogyakarta. Pasti tidak ada pula jaminan dari pemerintah pusat jika sudah menerapkan UUK DIY maka kehidupan Yogyakarta menjadi lebih nyaman, aman, tentram dan damai seperti saat bersama Sultan yang sekaligus menjadi Gubernur. Yang ada roda pemerintahan menjadi rumit bahkan permasalahan akan semakin kompleks. Karena, pemerintah yang akan menjalankan adalah rakyat Yogyakarta khususnya. Namun, apabila yang menjadi dasar jalannya pemerintahan saja tidak dicintai bahkan tidak menjadi kehendak rakyat apa bisa pemerintah itu berjalan dengan baik.
Jika  penerapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur benar-benar dilakukan oleh pemerintah pusat. Sudah pasti kehidupan rakyat Yogyakarta tidak akan seperti sedia kala. Adanya orang-orang yang mencalonkan dirinya yang berasal dari partai politik akan membuat kekacauan dan perpecahaan diantara rakyat Yogyakarta. Persaingan untuk menduduki kursi pemerintahan akan membuat orang saling bersaing menjadi berebut dan saling menjatuhkan satu sama lain. Hal ini akan membuat pecah rakyat Yogyakarta yang dulunya bersatu padu dalam menghadapi kehidupan yang ada.
Tidak hanya itu, setelah seseorang terpilih untuk menjadi Gubernur dan wakil Gubernur tidak kecil kemungkinan mereka lupa akan janji-janji yang diutarakan ketika di awal kampanye pemilihan. Saat ini yang diperlukan kesadaran bagi keseluruhan komponen masyarakat, kita melihat pengalaman yang telah ada saja. Hampir seluruh pemimpin yang ada di negeri ini menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi atau segelintir orang saja. Bukan tidak mungkin mereka yang terpilih nantinya juga bersikap demikian.
Berbeda konsepnya jika Sri Sultan dan Pakualam sebagai Gubernur dan wakil Gubernur dilakukan secara penetapan. Beliau memimpin lebih hati-hati dalam bertindak. Sri Sultan melakukan korupsi atau menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi itu hal yang mustahil. Hal ini karena adanya rasa tanggung jawab kepada kepemimpinan selanjutnya yang menggantikan kepemimpinan mereka yang satu garis keturunan. Tidak hanya itu melekatnya nilai-nilai luhur telah mendarah daging pada diri mereka. Itulah yang memberikan keyakinan pada rakyat Yogyakarta menggunakan penetapan bukan pemilihan, jangan anggap remeh rakyat Yogyakarta. Kami memiliki jiwa perlawanan yang gagah berani hingga apa yang menjadi tujuan kami dapat tercapai. Dari tinjauan secara historis, sosiologis, dan politis, pemerintahan di bawah kepemimpinan Sultan adalah sistem yang paling tepat bagi Yogyakarta.

Selasa, 13 Desember 2011

Jauhkan Anak dari Junk Food

Anak lebih suka dengan makanan yang mengandung Monosodium Glutamat. Kandungan MSG yang tidak pernah dicantumkan dalam kemasan makanan ringan, jika dicantumkan pun tidak dijelaskan berapa gram kandungannya dan hal itu mengancam kesehatan anak. Hasil penelitian PIRAC tahun 2003, dari 13 merk makanan ternyata tujuh merk tak menyebutkan adanya MSG dalam kemasannya. Tujuh merk tersebut Chiki, Chitato, Cheetos, Taro Snack, Golden Horn dan Anak Mas. Padahal MSG dapat menyebabkan beberapa penyakit diantaranya diabetes, hipertensi, gula dan menghambat pertumbuhan anak karena kadar gula-garam yang sangat tinggi. Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan penelitian di Semarang dan Sulawesi Selatan. BPOM Semarang menyatakan 90 persen makanan ringan atau jajanan yang dijual di beberapa sekolah daerah itu tak layak konsumsi. Sedangkan, BPOM Sulawesi Selatan mendapatkan 121 jenis makanan dan minuman yang tak layak dikonsumsi beredar. Setiap hari anak-anak mengonsumsi junk food baik di dalam maupun di luar pengawasan orang tua. Ketika anak berada di luar jangkauan orang tua mungkin harap maklum, namun sangat disayangkan apabila ketika dalam pengawasan si anak tetap mengonsumsi junk food. Lantas apabila demikian bagaimana nasib kesehatan anak, posisi anak sangat penting dalam pengembangan sumberdaya manusia masa depan. Anak dibiarkan makan junk food berapa jiwa yang akan meninggalkan negeri ini. Rengekan anak telah membuat orang tua khususnya para ibu mengijinkan anak-anak memasukkan sampah kedalam tubuhnya. Sesungguhnya kelak orang tua akan melihat anaknya lebih menangis menahan rasa sakit akibat si anak banyak konsumsi junk food saat ini.
Pertama dan utama, itu posisi keluarga bagi seseorang. Dimana seseorang akan merasakan adanya kasih sayang, pengayoman, perlindungan, dan nilai-nilai kehidupan. Keluarga adalah lingkungan primer bagi setiap individu, peranannya pun sangat dominan bagi tumbuh kembang fisik serta moral anak-anak. Beberapa fungsi pokok keluarga adalah fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi sosialisasi dan fungsi proteksi (perlindungan). Fungsi tersebut sangat memberikan berpengaruh bagi setiap individu, jika fungsi itu dapat dilakukan dengan baik maka hasilnya pun akan baik dan begitu sebaliknya. Kaitannya dalam permasalahan diatas yang lebih disoroti yaitu fungsi proteksi dalam keluarga bagi anak-anak. Fungsi proteksi (perlindungan) berarti keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomi, dan psikologi bagi seluruh anggotanya. Anggota disini yang dimaksud adalah anak-anak, karena anak-anak untuk menentukan kualitas hidupnya masih bergantung pada orang dewasa, terutama ibu atau orang tuanya. Jika anak dilepas ketika memilih apapun itu mereka akan memilih apa yang mereka suka bukan apa yang baik untuk mereka. Memikirkan baik-buruk belum dapat sederajat orang dewasa. Apalagi disuruh memilih makanan, jarang bahkan tidak pernah seorang anak memilih makanan yang mengandung karbohidrat , vitamin, dan protein. Kesehariannya anak lebih mengutamakan makanan ringan dibandingkan makanan bergizi. Banyaknya warung penyedia junk food juga merupakan salah satu faktor tingginya tingkat konsumsi anak terhadap junk food. Penjabaran diatas membuktikan adanya pergeseran fungsi proteksi pada anak terutama dalam hal pemilihan jenis makanan.
Pola pengasuhan anak yang berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, kebersihan, memberi kasih sayang dan sebagainya. Pola pengasuhan anak autoritatif pun tepat diterapkan dalam keluarga masa kini. Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan. Pola asuh ini dapat membuat anak mandiri, mempunyai kontrol diri dan kepercayaan diri yang kuat, dapat berinteraksi dengan teman sebayanya dengan baik, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru, kooperatif dengan orang dewasa, penurut, patuh, dan berorientasi pada prestasi. Pola pengasuhan anak telah kita tahu bahwa menyangkut banyak hal, dan aspek yang paling fundamental bagi seorang anak adalah pola asuh makan. Pola asuh makan bukan hanya sekedar memberi makan. Perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kuantitas dan kualitas makanan, serasi dengan tahap perkembangan anak serta cara pengaturan dan pemberian makanan yang benar. Tingkat fungsi proteksi dari sebuah keluarga sangat teruji dalam hal ini, dimana dapat melindungi anak dari penyakit atau tidak agar si anak dapat tumbuh kembang dengan sempurna. Apabila fungsi proteksi ada kesalahan, maka penyesalan akan hal itu pun dirasakan orang tua dimasa mendatang. Ibu yang dapat melakukan pola makan yang baik untuk anak, maka akan bermanfaat sebagai sumber tenaga, pertumbuhan, dan juga untuk kesehatan.
Proteksi seorang ibu dalam hal makanan sangat dibutuhkan bagi seorang anak. Ketegasan seorang ibu akan menujukan manfaat dalam prosentase tinggi dalam pemenuhan kebutuhan seorang anak. Anak memiliki delapan kebutuhan menurut Mc.Cleland, berikut tahapan kebutuhan anak dari yang paling bawah hingga atas: a) lapar, haus b) fisik c) Keamanan d) dimiliki dan disayang e) harga diri f) kognisi g) estetika h) aktualisasi diri. Seorang anak harus melewati tahap demi tahap seluruh kebutuhan dalam dirinya, untuk dapat mencapai aktualisasi diri pasti harus melewati tujuh tahap sebelumnya. Berkenaan dengan kebiasaan anak konsumsi junk food akan mempersulit anak untuk menuju tahap yang paling atas. Mau mencapai proses aktulisasi diri tetapi keadaan fisik tidak sehat tentu tidak bisa. Ketika anak sudah kenyang dan hilang rasa hausnya maka, fisiknya pun sehat kuat. Fisik dapat sehat dan kuat apabila disupply makanan dan minuman sehat bergizi. Di sini letak pilihan bagi para ibu, apakah akan terus memberikan uang anaknya tersayang untuk dijajankan makanan ringan yang mengandung Monosodium Glutamat atau menghentikan kebiasaan buruk anaknya. Ibu cerdas pasti akan memilih cara lain untuk menghindarkan anak kesayangannya dari produk junk food demi kelangsungan hidup anak masa kini dan masa mendatang.
Ibarat banyak jalan menuju Roma, begitu pula dengan cara bagaimana seorang ibu mengalihkan perhatian anak dari makanan yang mengandung Monosodium Glutamat sehingga berpindah ke makanan yang sehat dan bergizi. Kombinasi, kreasi dapat diterapkan dalam pembuatan makanan untuk anak-anak. Anak yang biasanya mudah bosen dengan menu yang sama dan sama. Ibu harus dapat membuat menu-menu yang berbeda setiap makan untuk anaknya. Apabila hal ini mengeluarkan biaya yang banyak, cukup dengan bahan yang sama namun pengolahannya yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nafsu makan anak. Masalah menu mungkin dapat divariasikan mudah sebab keanekaragaman bahan masakan pasti memberikan banyak ide buat seorang ibu dalam mengolahnya. Sayuran, buah-buahan anak-anak tidak mudah mengonsumsinya. Paling sulit apabila seorang anak itu dihadapkan dengan makanan yang terlihat jelas bahwa itu sayur dan buah. Untuk itu dapat diolah ke dalam bentuk yang lain, hal ini sudah dilakukan oleh pengusaha nugget di Bandung. Berawal ketika dalam mengasuh anaknya mengalami kesulitan ketika si anak diminta untuk konsumsi sayur, dan anak lebih menyukai nugget kemasan. Kemudian ibu ini membuat sendiri nugget yang dikombinasikan dengan sayur-sayuran seperti bayam dan wortel. Nugget ini berhasil memberikan kesuksesan bagi si ibu dari anak yang tidak suka sayuran ini. Kreativitas ibu ini dapat ditiru guna menyiasati pola makan anak yang tidak sehat.
Posisi wanita di dalam rumah tangga sangat berperan dalam hal pangan. Secara kodrati, wanita adalah orang pertama yang berperan secara dominan dalam pemilihan bahan pangan, pengelolaan sampai mengolah dan menyajikan bagi anggota rumah tangganya. Memasak adalah bagian dari proses penyediaan makanan. Memasak suatu hal yang mudah dan kapan saja dapat dilakukan bagi setiap ibu rumah tangga tetapi hal itu tidak pasti dapat dilakukan semua ibu-ibu yang memiliki karier. Problema yang ada keluarga-keluarga saat ini adalah ketika orang tua sudah bekerja lantas waktu habis untuk di kantor. Hal ini membuat ibu terkadang sedikit melupakan akan tanggung jawab proteksi serta pemenuhan kebutuhan anaknya. Berangkat setelah subuh, pulang sudah larut dan ketika keadaan fisik sudah lelah maka waktu untuk memperhatikan buah hati pun semakin terkurang pula. Seharian anak ditinggal, terkadang orang tua kurang memperhatikan pola asuh anak. Dengan siapa anak di rumah bersama sanak saudara, keluarga ataukah akan dititipkan pada tempat penitipan anak. Segala keputusan pasti terdapat resikonya, tetapi semua tergantung pada pertimbangan orang tua itu sendiri. Orang tua harus benar-benar memikirkan keamanan, kenyamanan, serta pengaruh sosial lingkungan anak. Bagaimana keadaan anak saat masa kecil, keadaan itulah yang memiliki andil dalam proses pembentukan diri. Orang tua pasti mengharapkan sukses mengasuh anak tanpa meninggalkan karier mereka. Oleh sebab itu, orang tua harus pintar memilih pengganti yang mampu mengasuh dengan tetap memperhatikan hal-hal mendasar yang berhubungan dengan kebutuhan anak dan lingkungan sosial. Berbeda dengan ibu rumah tangga, yang tidak memiliki pekerjaan di luar rumah. Tugas ibu seperti memasak, mencuci dan mengatur hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga akan mencapai hasil yang lebih maksimal dibandingkan dengan ibu-ibu yang mempunyai karier di luar rumah. Si ibu dapat mengawasi anak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Saat si anak makan pun ibu dapat mengontrolnya lebih ekstra sehingga dapat terhindar dari junk food. Pengawasan yang lebih ekstra seharusnya dapat dilakukan oleh ibu non karier. Namun, pengawasan ibu berkarier di luar rumah pun tidak menutup kemungkinan mampu mengontrol dengan baik pul. Hanya saja prosentase waktu ibu yang mempunyai karier berada di dalam rumah lebih sedikit dibandingkan ibu yang tidak berkarier di luar rumah.
Seberapa maksimal ibu-ibu menghindarkan anak dari junk food tetap saja sulit, karena penyebaran junk food sangat merata. Oleh karena itu, pengawasan dari pemerintah pusat melalui pihak-pihak terkait juga sangat dibutuhkan untuk membantu peranan ibu dalam memberantas junk food dari generasi muda. Perlunya pengkajian ulang tentang perijinan makanan beredar di lingkungan masyarakat. Beredarnya junk food sekitar anak-anak meresahkan para orang tua. Pengawasan ketat elemen pemerintah yang lebih ditingkatkan dari tingkat RT, RW, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga tingkat provinsi. Sekiranya perlu dibentuk gerakan melawan junk food, gerakan ini dimotivatori oleh pemerintah melalui kader-kader terpilih dalam masyarakat. Kader diambil dari perwakilan setiap desa, kemudian kader ini menggerakan ibu-ibu rumah tangga dalam desa. Setiap kelompok dalam desa diadakan pertemuan rutin, dalam pertemuan diberikan penjelasan tentang bahaya junk food, trik menjaga anak agar terhindar dari junk food, dan sebagainya. Kelompok gerakan-gerakan ini juga harus termonitoring baik dari pihak-pihak pemerintah yang bersangkutan. Tujuannya apabila ada yang kurang berjalan kurang efektif atau ada kendala dalam menggerakan ibu-ibu rumah tangga dalam melawan junk food. Jika seluruh ibu memahami benar tentang bahaya junk food maka mudah untuk menjauhkan anak-anak dari junk food. Perpaduan pengawasan ibu-ibu rumah tangga akan lebih membantu satu sama lain. Modelnya jika ibu Si A melihat ada anak tetangga Si B membeli dan memakan makanan ringan di warung-warung sekitar rumah tinggal maka, diharapkan Ibu tersebut dapat melarang Si B begitu pula sebaliknya. Adanya sinergi ibu-ibu dalam satu desa akan memudahkan proses pelepasan anak dari junk food.
Penjabaran diatas menunjukan tingginya konsumen anak terhadap makanan ringan ( junk food ). Sebutan junk food dikarenakan makanan ringan mengandung zat yang berbahaya bagi tubuh anak. Kandungan Monosodium Glutamat (MSG) dapat menimbulkan beberapa penyakit bahkan zat ini menghambat pertumbuhan dan perkembangan bagi anak. Hal yang miris ketika anak lebih sering konsumsi junk food dibandingkan sayuran dan buah-buahan. Lingkungan tempat tinggal anak yang dikelilingi oleh para pendistribusi junk food sehingga anak mudah mendapatkan makanan ringan yang mengandung MSG. Tidak hanya di rumah, tetapi di lingkungan sekolah pula. Peranan dari keluarga sebagai lingkungan primer bagi seseorang individu sangat dibutuhkan. Keluarga yang memiliki bebrapa fungsi pokok diantaranya reproduksi, ekonomi,  sosialisasi dan proteksi ( perlindungan ). Berkenaan dengan permasalahan anak konsumsi junk food yang lebih disoroti yaitu fungsi proteksi mulai mengalami pergeseran. Proteksi dari orang tua dalam hal pemilihan makanan yang dikonsumsi anak mulai berkurang, dikarenakan ibu tidak tega melihat tangisan si anak. Pola asuh anak autoritatif sudah diterapkan dalam keluarga namun, pola asuh makan anak kurang baik maka, pola asuh tadi tidak akan mencapai titik kesempurnaan. Pola makan yang baik akan membantu anak dalam upaya pemenuhan tahapan dari delapan kebutuhan anak. Makanan yang bergizi akan membantu anak mencapai tahapan yang paling atas dari delapan kebutuhan anak menurut Mc.Cleland tersebut. Agar dapat menjauhkan anak dari junk food para ibu-ibu harus dapat berkreasi dari berbagai bahan makanan yang sehat dan bergizi. Tujuannya agar anak-anak mau mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, kalsium, vitamin dan mineral. Dengan masakan olahan ibu sendiri pasti terjamin higienis dan yang terpenting tidak mengandung Monosodium Glutamat (MSG).

Sumber Referensi:
Dwi Aulia Puspitaningrum. 2008. Ketahanan Pangan dan Peran Wanita untuk Mewujudkannya. Paradigma: Jurnal Masalah Sosial, Politik dan Kebijakan. Volume 12. Hlm.102.
Goode, William J. 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara.
Mariani. 2004. Hubungan Pola Asuh Makan, Konsumsi Pangan dan Infeksi dengan Status Gizi Anak Balita. Jurnal Pendidikan Budaya. Volume 3. Hlm. 564.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More